Saturday, September 18, 2010

Tak Kembali untuk Kembali


sejak kecil aku sudah terbiasa dengan hewan dan pernah sekali bercita-cita akan menjadi dokter hewan. entah kenapa? memang, makhluk-makhluk itu selalu serta. di manapun dan kapanpun pasti ada satu-dua yang diutus alam untuk selalu berada di sekitarku.

ini satu kisah dulu. yang dua, tiga, dst lain waktu.

pernah seekor burung merpati jatuh di halaman depan rumahku. atas nasihat bapak waktu itu, langsung saja aku memungutnya dan memeriksa keadaannya. pantas saja dia terjatuh, sayap luka dengan bulu yang basah bersimbah darah tak memungkinkan penerbangannya. kubersihkan dan kurawat dia, lalu kuberi makan. untungnya ada satu sangkar kosong, yang biasa dipakai untuk tempat mengurung induk ayam bangkok yang tak terkendali galaknya, di situlah dia beristirahat. setiap hari aku melihat keadaannya. demikianlah sampai dia sehat dan lincah. setelah beberapa minggu, aku memutuskan untuk membiarkan pintu sangkarnya terbuka agar dia bisa bergerak leluasa. aku sangat berharap jika dia keluar nanti, dia masih berpikir untuk kembali lagi, dan terjadilah demikian. dia tahu benar tempat tinggalnya, di mana dia bisa aman. sungguh menyenangkan memiliki hewan peliharaan yang jinak begitu. tapi ternyata itu tak berlangsung lama. sepertinya ada migrasi besar-besaran burung merpati dan dia adalah salah satu yang tertinggal, tercerai dari rombongannya waktu itu. dan kini kawanannya muncul kembali, menetap di salah satu gedung sekolah negeri di dekat rumahku. si merpati-ku sedang terbang menari-nari menikmati matahari, lalu sekumpulan merpati lain datang menghampiri. mereka mendarat bersama, bermain bersama, untuk kembali lagi terbang bersama. merpati-ku terbang jauh bersama kawanannya, tak lagi kembali.

No comments:

Post a Comment