Sunday, September 15, 2013

Tax - Take and Give


 Begitulah istilah asing itu semakin familiar di telinga kita. Saking familiarnya, kita seringkali mengucapkannya dalam beberapa kesempatan, entah itu dalam pertemuan resmi atau dalam kehidupan sehari-hari.

Tapi, pernahkah kita tergugah untuk mencari tahu mengapa dan bagaimana istilah itu lebih familiar dari istilah serupa tapi tak sama, Give and Take.

Bila merujuk pada unsur yang membangunnya, kita boleh sepakat bahwa kedua istilah tersebut sama-sama dibangun oleh dua kata kerja dan satu artikel penghubung. Tak ada bedanya. Tapi, bila merujuk pada susunan bangunannya, kita tak bisa menyangkal perbedaannya.

Take and Give diawali sebuah proses menerima baru kemudian diikuti proses memberi. Sebaliknya, Give and Take didahului sebuah proses memberi lalu menerima.

Sepintas, kita mungkin akan berkomentar 'Lalu apa istimewanya? Bukankah kalau dilakukan secara berimbang, keduanya akan menghasilkan nilai yang sama? Terima satu, beri satu harusnya sama dengan beri satu, terima satu?'

Ya, tentu saja. Secara Matematika, keduanya sama.

Tapi, hidup atau apapun yang kita lakukan dalam hidup tak semata soal matematika sederhana.

Hidup adalah proses. Dan, sadar atau tidak sadar, hakikat kita sebagai makhluk hidup adalah lebih dulu menerima sebelum kemudian belajar memberi. Begitu pula sebagai warga negara.

Sejak lahir, kita sudah menerima dan menikmati fasilitas negara berupa tempat kelahiran, entah itu rumah sakit, klinik bersalin, atau rumah, yang dibangun di atas tanah yang merdeka. Saat memasuki usia sekolah, kita belajar di gedung yang dibangun dengan kas negara. Seiring dengan proses pertumbuhan dan perkembangan kita, baik sebagai manusia maupun warga negara, kita terus menikmati berbagai fasilitas negara, seperti jalan raya, jembatan, rumah sakit, serta sarana dan prasarana lain, yang juga dibangun dengan kas negara.

Seandainya saja  kita pernah tergugah untuk bertanya dari mana semuanya itu berasal, kita tak akan pernah kesulitan untuk menemukan jawabannya.

Tanah merdeka tempat kita lahir dan hidup bebas adalah hasil perjuangan nenek moyang kita selama berabad-abad, bukan hasil pertemuan yang dalam hitungan detik simsalabim menghasilkan kemerdekaan instan yang bisa langsung mereka nikmati. Fasilitas yang sudah dan masih terus kita nikmati adalah hasil sumbangsih orang-orang sebelum kita yang setia memenuhi kewajibannya meski tak mendapat imbalan langsung dari negara.

Dari merekalah kita menerima dan menikmati semuanya itu.

Jika bercermin pada Konvensi International Labour Organization No 138 yang menetapkan usia 18 sebagai usia minimum untuk diperbolehkan masuk kerja, kita akan sadar betapa lamanya waktu yang diberikan kepada kita untuk hidup hanya dengan menerima.

Selama 18 tahun, atau mungkin lebih, kita hanya menerima dan menikmati, tanpa dibebani kewajiban apa pun. Selama 18 tahun, atau mungkin lebih, kita hanya menikmati hasil perjuangan nenek moyang dan sumbangsih orang-orang yang hidup sebelum kita.

Jadi, tak heran kalau bapak bangsa, Ir. Soekarno, tak malu mengulang kata-kata John F. Kennedy yang berbunyi, 'Jangan tanya apa yang negara berikan padamu, tetapi tanya apa yang kamu berikan kepada negara.'

Ya, setelah 18 tahun, atau mungkin lebih, hidup tanpa beban, sudah saatnya kita belajar memberi. Seperti orang-orang yang hidup sebelum kita, kita punya kewajiban untuk berkontribusi, dalam bentuk pajak, kepada negara untuk dikelola dan dipakai untuk membiayai pembangunan.

Ketika kita mulai memberi, kita mungkin tak sabar melihat hasilnya dan bertanya, 'Pembangunan apa? Jalan masih banyak yang berlubang, beberapa desa bahkan masih terisolasi karena tak ada jembatan, sekolah masih banyak yang rusak, listrik belum sampai ke pelosok negeri.' Lebih buruk lagi, kita seringkali menjadi pesimis karena terpengaruh pemberitaan media yang tak berimbang, yang melulu menyoroti penyelewengan yang dilakukan sejumlah oknum.

Tapi, bukankah nenek moyang dan orang-orang yang hidup sebelum kita juga menjalani proses yang hampir sama? Seperti halnya kemerdekaan, pembangunan juga membutuhkan perjuangan dan waktu yang panjang. Kita, sebagai warga negara, wajib memenuhi kewajiban sambil terus mengawal pelaksanaan pembangunan.

Take and Give

Setelah 18 tahun, atau mungkin lebih, hidup hanya dengan menerima, sudah saatnya kita belajar memberi demi pembangunan serta kehidupan berbangsa dan bernegara yang berkelanjutan.





Lomba Artikel, Desain Iklan, dan Fotografi DJP

No comments:

Post a Comment