Begitulah istilah
asing itu semakin familiar di telinga kita. Saking familiarnya, kita seringkali
mengucapkannya dalam beberapa kesempatan, entah itu dalam pertemuan resmi atau
dalam kehidupan sehari-hari.
Tapi, pernahkah
kita tergugah untuk mencari tahu mengapa dan bagaimana istilah itu lebih
familiar dari istilah serupa tapi tak sama, Give and Take.
Bila merujuk pada
unsur yang membangunnya, kita boleh sepakat bahwa kedua istilah tersebut
sama-sama dibangun oleh dua kata kerja dan satu artikel penghubung. Tak ada
bedanya. Tapi, bila merujuk pada susunan bangunannya, kita tak bisa menyangkal
perbedaannya.
Take and Give
diawali sebuah proses menerima baru kemudian diikuti proses memberi.
Sebaliknya, Give and Take didahului sebuah proses memberi lalu menerima.
Sepintas, kita
mungkin akan berkomentar 'Lalu apa istimewanya? Bukankah kalau dilakukan secara
berimbang, keduanya akan menghasilkan nilai yang sama? Terima satu, beri satu
harusnya sama dengan beri satu, terima satu?'
Ya, tentu saja.
Secara Matematika, keduanya sama.
Tapi, hidup atau
apapun yang kita lakukan dalam hidup tak semata soal matematika sederhana.
Hidup adalah
proses. Dan, sadar atau tidak sadar, hakikat kita sebagai makhluk hidup adalah
lebih dulu menerima sebelum kemudian belajar memberi. Begitu pula sebagai warga
negara.
Sejak lahir, kita
sudah menerima dan menikmati fasilitas negara berupa tempat kelahiran, entah
itu rumah sakit, klinik bersalin, atau rumah, yang dibangun di atas tanah yang
merdeka. Saat memasuki usia sekolah, kita belajar di gedung yang dibangun
dengan kas negara. Seiring dengan proses pertumbuhan dan perkembangan kita,
baik sebagai manusia maupun warga negara, kita terus menikmati berbagai
fasilitas negara, seperti jalan raya, jembatan, rumah sakit, serta sarana dan
prasarana lain, yang juga dibangun dengan kas negara.
Seandainya
saja kita pernah tergugah untuk bertanya
dari mana semuanya itu berasal, kita tak akan pernah kesulitan untuk menemukan
jawabannya.
Tanah merdeka
tempat kita lahir dan hidup bebas adalah hasil perjuangan nenek moyang kita
selama berabad-abad, bukan hasil pertemuan yang dalam hitungan detik simsalabim
menghasilkan kemerdekaan instan yang bisa langsung mereka nikmati. Fasilitas
yang sudah dan masih terus kita nikmati adalah hasil sumbangsih orang-orang
sebelum kita yang setia memenuhi kewajibannya meski tak mendapat imbalan
langsung dari negara.
Dari merekalah
kita menerima dan menikmati semuanya itu.
Jika bercermin
pada Konvensi International Labour Organization No 138 yang menetapkan usia 18
sebagai usia minimum untuk diperbolehkan masuk kerja, kita akan sadar betapa
lamanya waktu yang diberikan kepada kita untuk hidup hanya dengan menerima.
Selama 18 tahun,
atau mungkin lebih, kita hanya menerima dan menikmati, tanpa dibebani kewajiban
apa pun. Selama 18 tahun, atau mungkin lebih, kita hanya menikmati hasil
perjuangan nenek moyang dan sumbangsih orang-orang yang hidup sebelum kita.
Jadi, tak heran
kalau bapak bangsa, Ir. Soekarno, tak malu mengulang kata-kata John F. Kennedy
yang berbunyi, 'Jangan tanya apa yang negara berikan padamu, tetapi tanya apa
yang kamu berikan kepada negara.'
Ya, setelah 18
tahun, atau mungkin lebih, hidup tanpa beban, sudah saatnya kita belajar
memberi. Seperti orang-orang yang hidup sebelum kita, kita punya kewajiban
untuk berkontribusi, dalam bentuk pajak, kepada negara untuk dikelola dan
dipakai untuk membiayai pembangunan.
Ketika kita mulai
memberi, kita mungkin tak sabar melihat hasilnya dan bertanya, 'Pembangunan
apa? Jalan masih banyak yang berlubang, beberapa desa bahkan masih terisolasi
karena tak ada jembatan, sekolah masih banyak yang rusak, listrik belum sampai
ke pelosok negeri.' Lebih buruk lagi, kita seringkali menjadi pesimis karena
terpengaruh pemberitaan media yang tak berimbang, yang melulu menyoroti
penyelewengan yang dilakukan sejumlah oknum.
Tapi, bukankah
nenek moyang dan orang-orang yang hidup sebelum kita juga menjalani proses yang
hampir sama? Seperti halnya kemerdekaan, pembangunan juga membutuhkan
perjuangan dan waktu yang panjang. Kita, sebagai warga negara, wajib memenuhi
kewajiban sambil terus mengawal pelaksanaan pembangunan.
Take and Give
Setelah 18 tahun,
atau mungkin lebih, hidup hanya dengan menerima, sudah saatnya kita belajar
memberi demi pembangunan serta kehidupan berbangsa dan bernegara yang
berkelanjutan.
Lomba Artikel, Desain Iklan, dan Fotografi DJP

No comments:
Post a Comment