Saturday, November 30, 2013

Tak Ada yang Lebih Buruk daripada Mencuri

“…, hanya ada satu macam dosa, hanya satu. Yaitu mencuri.” (hal. 34, paragraf 4)
Kalau kau membunuh seorang pria, kau mencuri kehidupannya. … Kau mencuri seorang suami dari istrinya, merampok seorang ayah dari anak-anaknya. Kalau kau menipu, kau mencuri hak seseorang untuk mendapatkan kebenaran. Kalau kau berbuat curang, kau mencuri hak seseorang untuk mendapatkan keadilan.” (hal. 34, paragraf 7)
Tak ada tindakan yang lebih buruk daripada mencuri.” (hal. 35, paragraf 3)
Jika Tuhan memerhatikan kehidupan kita, kuharap dia lebih mementingkan hal-hal selain kesukaanku minum scotch dan makan daging babi.” (hal. 35, paragraf 4)

Sepintas rangkaian pernyataan tersebut cukup rentan terhadap pertanyaan seperti, “Siapa orang yang begitu berani berargumen bahwa kebiasaan minum minuman memabukkan, seperti scotch, dan bahkan makan makanan haram, seperti daging babi, tidak lebih buruk dari mencuri atau melakukan tindakan lain yang merugikan orang lain, seperti membunuh, merampok, menipu, atau berbuat curang? Wakil Tuhankah? Malaikatkah? Nabikah?”
Bukan! Sekali-kali bukan! Orang yang membuat pernyataan itu tak lebih dari seorang manusia biasa, laki-laki yang berperan sebagai ayah bagi seorang anak laki-laki bernama Amir, tokoh utama dalam novel ini.
Karenanya, sangat tidak mengherankan jika beberapa kritikus menilai novel ini kontroversial dan berpotensi merusak keyakinan dan pemahaman pembaca tentang ajaran agama, khususnya tentang dosa, yang selama ini diyakininya.
Tetapi, begitulah cara Khaled Hosseini menuntun pembaca melalui alur cerita yang sebenarnya mengandung pelajaran moral yang sangat berharga.
Terlepas dari kontroversi tentang apakah seorang manusia biasa, seperti ayah Amir, pantas membanding-bandingkan dosa A tidak lebih buruk dari dosa B, Khaled Hosseini berhasil menyajikan gambaran yang sangat gamblang tentang betapa mengerikannya kehidupan setelah Amir mencuri hak pelayan sekaligus teman terbaiknya yang bernama Hassan untuk mendapatkan kebenaran dan keadilan.
Mengambil latar Afganistan pada 1975, ketika kaum Hazzara masih dianggap lebih rendah dari kaum Pashtun dan pasukan Rusia mulai menginvasi negara yang juga dikenal dengan julukan Graveyard of Empires itu, Khaled Hosseini memperkenalkan Amir sebagai anak laki-laki yang dipandang sebelah mata oleh ayahnya dan dinilai tidak pernah berani memperjuangkan haknya dan hak orang lain yang begitu mengasihinya.
Entah karena Amir memang terlahir seperti itu atau perlakuan dan penilaian ayahnya yang menjadikannya begitu, Amir lebih memilih sembunyi di balik dinding ketika Hassan, sahabatnya yang selalu ceria, mendukung, dan rela melakukan apa saja untuknya, disodomi oleh Assef. Ia sanggup menutup mulut dan berlalu seolah semuanya baik-baik saja, ketika Ali, ayah Hassan, dan ayahnya sendiri bertanya-tanya tentang sebab-musabab yang membuat Hassan tiba-tiba lebih banyak diam dan berkurung di kamar.
Lebih buruk lagi, Amir yang perlahan tetapi pasti mulai menyadari kesalahannya dan tak sanggup melihat akibatnya bahkan nekad mencari cara untuk lari dari kenyataan: ia menuduh Hassan melakukan dosa terbesar menurut ayahnya -  mencuri jam tangannya.
Di luar dugaannya, Hassan mengakui kesalahan yang tak pernah dilakukannya. Ayahnya, yang dikiranya tak mungkin menolerir dosa sebesar itu, pun berkenan memaafkan sahabatnya itu.
Tetapi, nasi sudah menjadi bubur. Perubahan sikap Hassan dan tuduhan yang diarahkan padanya membuat ayahnya tak lagi merasa nyaman tinggal di rumah itu. Bersama Hassan, ia memutuskan angkat kaki dan pergi entah ke mana.
Sepeninggal Hassan dan ayahnya, kehidupan di rumah Amir tak lagi sama. Semuanya bahkan lebih buruk ketika pasukan Rusia semakin merajalela sehingga Amir dan ayahnya terpaksa mengungsi ke Amerika Serikat.
Secara fisik, Amir dan ayahnya memang berhasil menyelamatkan diri. Meski hidupnya di Amerika Serikat tak semudah saat masih tinggal di Afganistan, Amir setidaknya berhasil menyelesaikan pendidikannya dan menjadi seorang penulis yang sukses.
Ironisya, di balik keberhasilannya itu, Amir tak pernah bisa menyelamatkan diri dari rasa bersalah dan penyesalan yang semakin menyiksanya. Ia bahkan seperti terlempar ke titik nadir kehidupan ketika Rahim Khan, sahabat ayahnya, menghubunginya beberapa puluh tahun kemudian dan memberi tahunya bahwa Hassan sudah tak ada. Ia nyaris tak bisa berkata apa-apa ketika Rahim Khan akhirnya mengungkapkan kebenaran bahwa laki-laki yang pernah begitu menghormati dan menyayanginya adalah saudara seayahnya.
Di sinilah Khaled Hosseini menunjukkan kepiawaiannya sebagai penulis. Selain berani memberikan perspektif yang berbeda, ia juga mampu menyajikan gambaran yang begitu gamblang tentang betapa mengerikannya kehidupan ketika seseorang mencuri hak sesamanya untuk mendapatkan kebenaran dan keadilan.
Melalui Kite Runner, ia menyentuh rasa kemanusiaan pembacanya dengan tulisan yang begitu rinci, tetapi masih cukup mudah untuk diikuti dan dimengerti. Pesannya pun sangat sederhana: “Jangan mencuri!
Menjelang akhir cerita, Khaled Hosseini memang juga menyelipkan pesan tentang kesempatan kedua untuk menebus dosa akibat kesalahan di masa lalu. Tetapi, biaya penebusannya sangat mahal dan penuh drama.

Amir hanya punya dua pilihan: tetap hidup dengan rasa bersalah dan penyesalan atau kembali ke Afganistan dan menghadapi segala risiko untuk menebus dosanya melalui Sohrab, anak Hassan.


=o=o=o=o=o==o=o=o=o=o=o=o=o=


Nominator Pemenang Lomba Resensi Buku Tahun 2013 Perpustakaan Pajak












No comments:

Post a Comment