“Kalau kau membunuh
seorang pria, kau mencuri
kehidupannya. … Kau mencuri seorang
suami dari istrinya, merampok
seorang ayah dari anak-anaknya. Kalau kau menipu,
kau mencuri hak seseorang untuk
mendapatkan kebenaran. Kalau kau berbuat
curang, kau mencuri hak seseorang untuk mendapatkan keadilan.” (hal. 34,
paragraf 7)
“Tak ada tindakan yang lebih buruk daripada mencuri.”
(hal. 35, paragraf 3)
“Jika Tuhan memerhatikan kehidupan kita, kuharap dia
lebih mementingkan hal-hal selain kesukaanku minum scotch dan makan daging babi.” (hal. 35, paragraf 4)
Sepintas rangkaian pernyataan tersebut cukup rentan
terhadap pertanyaan seperti, “Siapa orang yang begitu berani berargumen bahwa
kebiasaan minum minuman memabukkan, seperti scotch,
dan bahkan makan makanan haram, seperti daging babi, tidak lebih buruk dari
mencuri atau melakukan tindakan lain yang merugikan orang lain, seperti
membunuh, merampok, menipu, atau berbuat curang? Wakil Tuhankah? Malaikatkah?
Nabikah?”
Bukan! Sekali-kali bukan! Orang yang membuat pernyataan
itu tak lebih dari seorang manusia biasa, laki-laki yang berperan sebagai ayah bagi
seorang anak laki-laki bernama Amir, tokoh utama dalam novel ini.
Karenanya, sangat tidak mengherankan jika beberapa
kritikus menilai novel ini kontroversial dan berpotensi merusak keyakinan dan pemahaman
pembaca tentang ajaran agama, khususnya tentang dosa, yang selama ini
diyakininya.
Tetapi, begitulah cara Khaled Hosseini menuntun pembaca
melalui alur cerita yang sebenarnya mengandung pelajaran moral yang sangat
berharga.
Terlepas dari kontroversi tentang apakah seorang manusia
biasa, seperti ayah Amir, pantas membanding-bandingkan dosa A tidak lebih buruk
dari dosa B, Khaled Hosseini berhasil menyajikan gambaran yang sangat gamblang
tentang betapa mengerikannya kehidupan setelah Amir mencuri hak pelayan
sekaligus teman terbaiknya yang bernama Hassan untuk mendapatkan kebenaran dan
keadilan.
Mengambil latar Afganistan pada 1975, ketika kaum Hazzara
masih dianggap lebih rendah dari kaum Pashtun dan pasukan Rusia mulai
menginvasi negara yang juga dikenal dengan julukan Graveyard of Empires itu, Khaled Hosseini
memperkenalkan Amir sebagai anak laki-laki yang dipandang sebelah mata oleh
ayahnya dan dinilai tidak pernah berani memperjuangkan haknya dan hak orang
lain yang begitu mengasihinya.
Entah karena Amir memang terlahir seperti itu atau
perlakuan dan penilaian ayahnya yang menjadikannya begitu, Amir lebih memilih
sembunyi di balik dinding ketika Hassan, sahabatnya yang selalu ceria,
mendukung, dan rela melakukan apa saja untuknya, disodomi oleh Assef. Ia
sanggup menutup mulut dan berlalu seolah semuanya baik-baik saja, ketika Ali,
ayah Hassan, dan ayahnya sendiri bertanya-tanya tentang sebab-musabab yang
membuat Hassan tiba-tiba lebih banyak diam dan berkurung di kamar.
Lebih buruk lagi, Amir yang perlahan tetapi pasti mulai
menyadari kesalahannya dan tak sanggup melihat akibatnya bahkan nekad mencari
cara untuk lari dari kenyataan: ia menuduh Hassan melakukan dosa terbesar
menurut ayahnya - mencuri jam tangannya.
Di luar dugaannya, Hassan mengakui kesalahan yang tak
pernah dilakukannya. Ayahnya, yang dikiranya tak mungkin menolerir dosa sebesar
itu, pun berkenan memaafkan sahabatnya itu.
Tetapi, nasi sudah menjadi bubur. Perubahan sikap Hassan
dan tuduhan yang diarahkan padanya membuat ayahnya tak lagi merasa nyaman
tinggal di rumah itu. Bersama Hassan, ia memutuskan angkat kaki dan pergi entah
ke mana.
Sepeninggal Hassan dan ayahnya, kehidupan di rumah Amir
tak lagi sama. Semuanya bahkan lebih buruk ketika pasukan Rusia semakin
merajalela sehingga Amir dan ayahnya terpaksa mengungsi ke Amerika Serikat.
Secara fisik, Amir dan ayahnya memang berhasil
menyelamatkan diri. Meski hidupnya di Amerika Serikat tak semudah saat masih
tinggal di Afganistan, Amir setidaknya berhasil menyelesaikan pendidikannya dan
menjadi seorang penulis yang sukses.
Ironisya, di balik keberhasilannya itu, Amir tak pernah
bisa menyelamatkan diri dari rasa bersalah dan penyesalan yang semakin
menyiksanya. Ia bahkan seperti terlempar ke titik nadir kehidupan ketika Rahim
Khan, sahabat ayahnya, menghubunginya beberapa puluh tahun kemudian dan memberi
tahunya bahwa Hassan sudah tak ada. Ia nyaris tak bisa berkata apa-apa ketika
Rahim Khan akhirnya mengungkapkan kebenaran bahwa laki-laki yang pernah begitu
menghormati dan menyayanginya adalah saudara seayahnya.
Di sinilah Khaled Hosseini menunjukkan kepiawaiannya
sebagai penulis. Selain berani memberikan perspektif yang berbeda, ia juga mampu
menyajikan gambaran yang begitu gamblang tentang betapa mengerikannya kehidupan
ketika seseorang mencuri hak sesamanya untuk mendapatkan kebenaran dan
keadilan.
Melalui Kite Runner, ia menyentuh rasa kemanusiaan
pembacanya dengan tulisan yang begitu rinci, tetapi masih cukup mudah untuk diikuti
dan dimengerti. Pesannya pun sangat sederhana: “Jangan mencuri!”
Menjelang akhir cerita, Khaled Hosseini memang juga menyelipkan
pesan tentang kesempatan kedua untuk menebus dosa akibat kesalahan di masa
lalu. Tetapi, biaya penebusannya sangat mahal dan penuh drama.
Amir hanya punya dua pilihan: tetap hidup dengan rasa
bersalah dan penyesalan atau kembali ke Afganistan dan menghadapi segala risiko
untuk menebus dosanya melalui Sohrab, anak Hassan.
=o=o=o=o=o==o=o=o=o=o=o=o=o=





No comments:
Post a Comment