Hari Pertama
Sore menjelang malam, bayanganku mengejar langkah kaki-kaki yang saling
berlomba kanan dengan kiri. Sambil bergegas langkah, kuangkat pergelangan
tanganku. Jarum panjang arloji berwarna perak hampir menyentuh angka dua belas.
Masih sempat, dua menit lagi, pikirku. . . .
Tempat yang kutuju itu berpenghuni sudah sejak lama. Ada suara-suara di sana. Sepertinya film dokumenter sedang diputar dan ditonton bersama.
Tempat yang kutuju itu berpenghuni sudah sejak lama. Ada suara-suara di sana. Sepertinya film dokumenter sedang diputar dan ditonton bersama.
Aku sudah dekat ke pintu. Dengan berhati-hati gagangnya kuputar ke kanan tapi pintu ini enggan dibuka. Tak perlu heran karena memang ruang kelas mata
kuliah hari ini berada di gedung PE di
Kampus Salemba. Bersama sekelompok gedung lama, gedung ini tampak kalah lincah dari
gedung-gedung lainnya. Dan tentang suara tadi, tepat saja. Di komputer jinjingnya, seorang dosen
memang sedang memutar kisah si Chantek, The
Ape Who Went to College, menayangkannya ke layar putih di depan ruang
kelas. Sambil mencari tempat duduk yang nyaman, kulirik tayangan di depan. Apa ini? Semacam ice breaker kah? Bisa
jadi. Yang pasti, suguhan ini mencuri rasa
ingin tahuku tentang apa yang akan kudapat di kelas ini dari hari ini sampai
terakhir nanti.
-o-o-o-
Hari Kedua
Hari sudah Kamis lagi. Mengingat minggu lalu dosen sudah hadir di ruang
kelas sebelum pukul tujuh malam, maka kali ini aku berangkat lebih awal. Apalagi
hari ini aku dan teman-temanku ditugasi memikirkan dua pertanyaan dan satu di
antaranya adalah pertanyaan Mengapa
dosen/mahasiswa tidak tepat waktu? Menurutku, ini adalah suatu pertanyaan
yang tak cukup dijawab dengan kalimat yang lengkap SPOK-nya tetapi juga harus
ditindaklanjuti dengan sikap dan
perbuatan nyata.
Jawaban tertulis sudah di tangan, hadir lebih awal lagi sudah kulakukan. Tapi masih saja dosen ini sudah lebih dulu duduk di kursinya di ruangan, menanti anak-anak
didiknya dengan nyaman hadir mengikuti pembagian jatah ilmu pengetahuan.
-o-o-o-
Hari Ketiga
Kemampuan berpikir kritis dan berimajinasi, katanya, adalah modal
orang-orang luar biasa yang menjadikan mereka sukses jauh melampaui orang-orang
pada umumnya. “Jangan lupakan principle of charity!” begitu pesan
dosen. Karenanya, di atas kepintaran logika manusia, prinsip kemurahan hati menjadi menu
utama santapanku di pertemuan ketiga malam ini.
-o-o-o-
Hari Keempat
Mata kuliah ini, Komunikasi Bisnis, benar-benar berbeda dari yang lain.
Bayangkan saja tugas-tugas yang diberikan hampir bisa dikatakan bukan tugas
yang menambah beban, melainkan rekreasi yang meringankan pikiran. Menonton
film, siapa yang tidak suka? Dan di pertemuan keempat ini aku dan teman-temanku
ditugasi membuat review dari film The
Giver (2014) yang diadaptasi dari novel karya Louis Lowry.
Tokoh utamanya bernama Jonas, seorang bocah laki-laki yang berusia dua
belas tahun. Di komunitasnya, penduduk tidak mengenal warna, tidak mengenal apa
arti cinta, tidak mengenal keluarga. Semua serba diatur, semua terasa kaku.
Ketika Jonas mengetahui bahwa kehidupan di komunitas tidak seperti seharusnya,
tidak manusiawi, pikirannya mulai berontak dan di situlah konflik mulai muncul,
dan seterusnya. Dan seterusnya.
Setelah memberi review tentang film ini, dosen memberi banyak masukan
tentang pemikiran manusia.Yang pertama, katanya terdapat dua cara berpikir
manusia: divergent yang mengecil dan convergent yang meluas. Disebutkannya pula
tentang dua cara pengajaran dan dua modus berpikir manusia yaitu, otak sebagai
harddisk dengan modus berpikir otomatis (contohnya guru menyimpan ilmu di otak
siswa) dan otak sebagai kompor dengan modus berpikir reflektif (contohnya guru
menyalakan kompor siswa, sementara siswa harus berpikir sendiri). Dan
lain-lain. Dan lain-lain.
Pembicaraan berikutnya terbilang kontroversial tapi mengundang rasa ingin
tahu yang lebih besar lagi. Beliau mencontohkan kopi Luwak (liar atau
kandangan) ketika menjelaskan tentang bagaimana memandang tujuan naik haji
dalam Islam (untuk pencerahan atau sekedar formalitas). Walau beberapa siswa mungkin mengernyitkan
dahi karena mengenal betul ajaran agamanya, perumpamaannya mudah dimengerti dan
bahkan lekat di ingatan ketika kapan-kapan bahasan ini diperbincangkan lagi di
kemudian hari.
-o-o-o-
Hari Kelima
Presentasi Herbalife oleh William Ackman diperbincangkan sebagai
salah satu presentasi terbaik yang patut dijadikan acuan. Dosen menyarankan
kepada siswa-siswinya untuk mempedomani cara Ackman dalam menyajikan hasil
pemikiran kita kepada orang lain.
Pula diajarkannya perihal proses
sintesa ala Howard Gardner untuk penyampaian teori atau pendapat secara
terencana dan dapat dipertanggungjawabkan. Pelajari sintesanya. Kumpulkan objek
sebanyak mungkin sampai dirasakan cukup. Pikirkan pola. Atur pola. Untuk
kemudian kesimpulan baru dapat dirumuskan. Yah, begitulah caranya.
-o-o-o-
Hari Keenam
Kelas Komunikasi Bisnis adalah kelas dengan dua (2) SKS, yang artinya
perkuliahan before dan after mid-term hanya memerlukan masing-masing
lima pertemuan.Kalau begitu, harusnya ini adalah hari pertama perkuliahan setelah UTS, bukan?
Namun nyatanya tidak demikian. Puji Tuhan, dosen bermurah hati meluangkan
waktunya untuk mematangkan pemahaman siswa-siswinya lebih baik lagi.
-o-o-o-
Hari Ketujuh
Sore ini kelas mereview jawaban atas perintah dan pertanyaan di lembar
tugas pengganti UTS pekan lalu.
Aku duduk di tempat biasa, di sayap kiri tepat di depan layar putih ruang kelas. Di depan, dosen sedang membuka-buka folder; mencari-cari file yang akan diperbincangkan sampai malam nanti.
Aku duduk di tempat biasa, di sayap kiri tepat di depan layar putih ruang kelas. Di depan, dosen sedang membuka-buka folder; mencari-cari file yang akan diperbincangkan sampai malam nanti.
Sebuah file Microsoft Word
dipilih oleh beliau dan dibuka untuk disaksikan bersama. Sepertinya, aku
mengenali benar susunan kalimat yang tertata di sana. Kenapa bisa ide kami sama? Aku teringat pesan di lembar soal tugas
itu: Kemiripan jawaban akan mengurangi penilaian. Aku menyesal; aku bingung
hendak komplain kepada siapa.
Dosen menaik-turunkan halaman demi halaman dari file itu. Di pojok kanan atas tiap halamannya tertulis ‘Marina Sitinjak/1206317594’ dengan format font Monotype Corsiva yang kusuka. Ah,
aku menarik napas lega.
-o-o-o-
Hari Kedelepan
Semasih kanak-kanak dulu, Alm. Bapak suka membawaku dan saudara-saudariku
menikmati suguhan tahunan ala pedesaan. Pameran Kabupaten biasanya menyediakan
satu-satunya arena hiburan di tahun-tahun itu di musim liburan anak-anak sekolah.
Salah satunya adalah pertunjukan sepak bola gajah.
“Kami adalah korban sistem,” kata
kapten PSIS Semarang menjawab tuduhan keterlibatan timnya dalam skandal sepak
bola gajah Oktober lalu. Dosen mengangkat isu ini menjadi tema bahasan
perbincangan bersama Kamis ini. Dan tentu saja sepak bola gajah yang kedua ini
berbeda dari sepak bola gajah yang kusebutkan pertama tadi. Sepak bola gajah dalam kasus PSIS Semarang adalah tentang rusaknya sistem
persepakbolaan Indonesia, pada khususnya dan sistem-sistem terkait, pada
umumnya. Aku dan rekan-rekan sekelasku diajak berpikir bagaimana kita bisa
meng-hack seperlunya sistem yang
dicurigai rusak itu dengan tujuan untuk mencapai kemajuan skala besar. Katanya, kue-nya harus lebih besar.
-o-o-o-
Hari Kesembilan
Hari ini aku belajar tentang argumentasi. Komentar Nitin Nohria yang
mengatakan bahwa budaya berargumentasi di India dan Indonesia belum ada, menurutku, ada
benarnya. Dan, menurutku pula, kondisi seperti ini yang mendorong bapak dosen sering
melontarkan pernyataan-pernyataan yang tidak biasa di kelas untuk memancing
siswa-siswinya berani berargumen. Dan agar anak-anak didiknya tidak sesat
berpikir, beliau menceritakan sembilan (9) Carl Sagan’s Baloney Detection Kit
yang disarikan dari buku The Demon
Haunted World karya Carl Sagan sendiri untuk dipelajari sebelum
berargumentasi.
-o-o-o-
Hari Kesepuluh
Apa itu seni? Apa gunanya memahami seni?
Buat apa belajar bercerita? Dan bagaimana teknik bercerita?
Apa jawabanmu atas empat pertanyaan itu?
Empat pertanyaan tersebut menjadi materi pembelajaran di kelas di hari
kesepuluh ini. Dan buku Ninety Nine (99)
Ways to Tell A Story memberi angin segar yang menyebarkan benih keindahan
seni di hati calon penciptanya, membisiki telinga mereka, Ayo menulislah! Ayo
menulislah!
-o-o-o-
Hari Kesebelas
Sekarang saatnya mengaplikasikan ilmu ke selembar kerta kerja yang berjudul Kuis. Setelah
sepuluh kali bertemu muka dengan pendengaran yang baik, malam ini aku harus
bersuara lewat aksara, menuliskan buah pikiran, merekreasi karya milik orang
lain ke dalam bentuk cerita lainnya milikku sendiri dalam dua puluh menit waktu
yang terbilang sedikit.
Setelah itu, sebelum kelas berakhir dan ujian semester tiba, dosen kemudian
menyimpulkan pengajarannya selama enam bulan ke dalam dua pesan. Yang pertama adalah kita tidak
harus sama dengan orang lain. Kita tidak perlu membanding-bandingkan diri
dengan orang lain. Ilmu produktif memang penting. Namun, kalau kita tidak
memiliki bakat, kita bisa membantu orang-orang lain yang mempunyai ilmu
produktif sehingga kita bisa sukses bersama dengan orang-orang itu. Yang
terpenting adalah usaha kita yang maksimal di bidang kita sendiri. Sukses adalah masalah waktu. Yang kedua, yang tidak kalah penting,
adalah carilah satu atau beberapa orang mentor (yoda) yang bisa membimbing kita
untuk menjadi lebih baik lagi.
-o-o-o-
Hari Ini
Pagi menjelang siang, bayanganku mengejar gerak jari-jemari yang berlomba
kanan dengan kiri, menari di atas keyboard
di meja kerja. Sambil bergegas, kuangkat pergelangan tanganku. Jarum panjang
arloji berwarna perak hampir menyentuh angka dua belas. Masih sempat, dua menit
lagi, pikirku. . . .
Jakarta, 16 Desember 2014
Marina Sitinjak
sumber:
TUGAS PENGGANTI UJIAN AKHIR TERM 1 2014/2015, KOMUNIKASI BISNIS, KELAS HANDOWO DIPO
TUGAS PENGGANTI UJIAN AKHIR TERM 1 2014/2015, KOMUNIKASI BISNIS, KELAS HANDOWO DIPO
No comments:
Post a Comment