Tuesday, December 16, 2014

Lima Belas Pemikiran



Hari Pertama
Sore menjelang malam, bayanganku mengejar langkah kaki-kaki yang saling berlomba kanan dengan kiri. Sambil bergegas langkah, kuangkat pergelangan tanganku. Jarum panjang arloji berwarna perak hampir menyentuh angka dua belas. Masih sempat, dua menit lagi, pikirku. . . .

Tempat yang kutuju itu berpenghuni sudah sejak lama. Ada suara-suara di sana. Sepertinya film dokumenter sedang diputar dan ditonton bersama.
Aku sudah dekat ke pintu. Dengan berhati-hati gagangnya kuputar ke kanan tapi pintu ini enggan dibuka. Tak perlu heran karena memang ruang kelas mata kuliah hari ini  berada di gedung PE di Kampus Salemba. Bersama sekelompok gedung lama, gedung ini tampak kalah lincah dari gedung-gedung lainnya. Dan tentang suara tadi, tepat saja. Di komputer jinjingnya, seorang dosen memang sedang memutar kisah si Chantek, The Ape Who Went to College, menayangkannya ke layar putih di depan ruang kelas. Sambil mencari tempat duduk yang nyaman, kulirik tayangan di depan. Apa ini? Semacam ice breaker kah? Bisa jadi. Yang pasti, suguhan ini mencuri rasa ingin tahuku tentang apa yang akan kudapat di kelas ini dari hari ini sampai  terakhir nanti.
-o-o-o-
Hari Kedua
Hari sudah Kamis lagi. Mengingat minggu lalu dosen sudah hadir di ruang kelas sebelum pukul tujuh malam, maka kali ini aku berangkat lebih awal. Apalagi hari ini aku dan teman-temanku ditugasi memikirkan dua pertanyaan dan satu di antaranya adalah pertanyaan Mengapa dosen/mahasiswa tidak tepat waktu? Menurutku, ini adalah suatu pertanyaan yang tak cukup dijawab dengan kalimat yang lengkap SPOK-nya tetapi juga harus ditindaklanjuti dengan sikap dan perbuatan nyata.
Jawaban tertulis sudah di tangan, hadir lebih awal lagi sudah kulakukan. Tapi masih saja dosen ini sudah lebih dulu duduk di kursinya di ruangan, menanti anak-anak didiknya dengan nyaman hadir mengikuti pembagian jatah ilmu pengetahuan.
-o-o-o-
Hari Ketiga
Kemampuan berpikir kritis dan berimajinasi, katanya, adalah modal orang-orang luar biasa yang menjadikan mereka sukses jauh melampaui orang-orang pada umumnya. “Jangan lupakan principle of charity!” begitu pesan dosen. Karenanya, di atas kepintaran logika manusia, prinsip kemurahan hati menjadi menu utama santapanku di pertemuan ketiga malam ini.
-o-o-o-
Hari Keempat
Mata kuliah ini, Komunikasi Bisnis, benar-benar berbeda dari yang lain. Bayangkan saja tugas-tugas yang diberikan hampir bisa dikatakan bukan tugas yang menambah beban, melainkan rekreasi yang meringankan pikiran. Menonton film, siapa yang tidak suka? Dan di pertemuan keempat ini aku dan teman-temanku ditugasi membuat review dari film The Giver (2014) yang diadaptasi dari novel karya Louis Lowry.
Tokoh utamanya bernama Jonas, seorang bocah laki-laki yang berusia dua belas tahun. Di komunitasnya, penduduk tidak mengenal warna, tidak mengenal apa arti cinta, tidak mengenal keluarga. Semua serba diatur, semua terasa kaku. Ketika Jonas mengetahui bahwa kehidupan di komunitas tidak seperti seharusnya, tidak manusiawi, pikirannya mulai berontak dan di situlah konflik mulai muncul, dan seterusnya. Dan seterusnya.
Setelah memberi review tentang film ini, dosen memberi banyak masukan tentang pemikiran manusia.Yang pertama, katanya terdapat dua cara berpikir manusia: divergent yang mengecil dan convergent yang meluas. Disebutkannya pula tentang dua cara pengajaran dan dua modus berpikir manusia yaitu, otak sebagai harddisk dengan modus berpikir otomatis (contohnya guru menyimpan ilmu di otak siswa) dan otak sebagai kompor dengan modus berpikir reflektif (contohnya guru menyalakan kompor siswa, sementara siswa harus berpikir sendiri). Dan lain-lain. Dan lain-lain.
Pembicaraan berikutnya terbilang kontroversial tapi mengundang rasa ingin tahu yang lebih besar lagi. Beliau mencontohkan kopi Luwak (liar atau kandangan) ketika menjelaskan tentang bagaimana memandang tujuan naik haji dalam Islam (untuk pencerahan atau sekedar formalitas). Walau beberapa siswa mungkin mengernyitkan dahi karena mengenal betul ajaran agamanya, perumpamaannya mudah dimengerti dan bahkan lekat di ingatan ketika kapan-kapan bahasan ini diperbincangkan lagi di kemudian hari.
-o-o-o-
Hari Kelima
Presentasi Herbalife oleh William Ackman diperbincangkan sebagai salah satu presentasi terbaik yang patut dijadikan acuan. Dosen menyarankan kepada siswa-siswinya untuk mempedomani cara Ackman dalam menyajikan hasil pemikiran kita kepada orang lain.
Pula diajarkannya perihal proses sintesa ala Howard Gardner untuk penyampaian teori atau pendapat secara terencana dan dapat dipertanggungjawabkan. Pelajari sintesanya. Kumpulkan objek sebanyak mungkin sampai dirasakan cukup. Pikirkan pola. Atur pola. Untuk kemudian kesimpulan baru dapat dirumuskan. Yah, begitulah caranya.
-o-o-o-
Hari Keenam
Kelas Komunikasi Bisnis adalah kelas dengan dua (2) SKS, yang artinya perkuliahan before dan after mid-term hanya memerlukan masing-masing lima pertemuan.Kalau begitu, harusnya ini adalah hari pertama perkuliahan setelah UTS, bukan? Namun nyatanya tidak demikian. Puji Tuhan, dosen bermurah hati meluangkan waktunya untuk mematangkan pemahaman siswa-siswinya lebih baik lagi.
-o-o-o-
Hari Ketujuh
Sore ini kelas mereview jawaban atas perintah dan pertanyaan di lembar tugas pengganti UTS pekan lalu. 
Aku duduk di tempat biasa, di sayap kiri tepat di depan layar putih ruang kelas. Di depan, dosen sedang  membuka-buka folder; mencari-cari file yang akan diperbincangkan sampai malam nanti. 
Sebuah file Microsoft Word dipilih oleh beliau dan dibuka untuk disaksikan bersama. Sepertinya, aku mengenali benar susunan kalimat yang tertata di sana. Kenapa bisa ide kami sama? Aku teringat pesan di lembar soal tugas itu: Kemiripan jawaban akan mengurangi penilaian. Aku menyesal; aku bingung hendak komplain kepada siapa.
Dosen menaik-turunkan halaman demi halaman dari file itu. Di pojok kanan atas tiap halamannya tertulis ‘Marina Sitinjak/1206317594’ dengan format font Monotype Corsiva yang kusuka. Ah, aku menarik napas lega.
-o-o-o-
Hari Kedelepan
Semasih kanak-kanak dulu, Alm. Bapak suka membawaku dan saudara-saudariku menikmati suguhan tahunan ala pedesaan. Pameran Kabupaten biasanya menyediakan satu-satunya arena hiburan di tahun-tahun itu di musim liburan anak-anak sekolah. Salah satunya adalah pertunjukan sepak bola gajah.
Kami adalah korban sistem,” kata kapten PSIS Semarang menjawab tuduhan keterlibatan timnya dalam skandal sepak bola gajah Oktober lalu. Dosen mengangkat isu ini menjadi tema bahasan perbincangan bersama Kamis ini. Dan tentu saja sepak bola gajah yang kedua ini berbeda dari sepak bola gajah yang kusebutkan pertama tadi. Sepak bola gajah dalam kasus PSIS Semarang adalah tentang rusaknya sistem persepakbolaan Indonesia, pada khususnya dan sistem-sistem terkait, pada umumnya. Aku dan rekan-rekan sekelasku diajak berpikir bagaimana kita bisa meng-hack­ seperlunya sistem yang dicurigai rusak itu dengan tujuan untuk mencapai kemajuan skala besar. Katanya, kue-nya harus lebih besar.
-o-o-o-
Hari Kesembilan
Hari ini aku belajar tentang argumentasi. Komentar Nitin Nohria yang mengatakan bahwa budaya berargumentasi di India dan Indonesia belum ada, menurutku, ada benarnya. Dan, menurutku pula, kondisi seperti ini yang mendorong bapak dosen sering melontarkan pernyataan-pernyataan yang tidak biasa di kelas untuk memancing siswa-siswinya berani berargumen. Dan agar anak-anak didiknya tidak sesat berpikir, beliau menceritakan sembilan (9) Carl Sagan’s Baloney Detection Kit yang disarikan dari buku The Demon Haunted World karya Carl Sagan sendiri untuk dipelajari sebelum berargumentasi.
-o-o-o-
Hari Kesepuluh
Apa itu seni? Apa gunanya memahami seni? Buat apa belajar bercerita? Dan bagaimana teknik bercerita?
Apa jawabanmu atas empat pertanyaan itu?
Empat pertanyaan tersebut menjadi materi pembelajaran di kelas di hari kesepuluh ini. Dan buku Ninety Nine (99) Ways to Tell A Story memberi angin segar yang menyebarkan benih keindahan seni di hati calon penciptanya, membisiki telinga mereka, Ayo menulislah! Ayo menulislah!
-o-o-o-
Hari Kesebelas
Sekarang saatnya mengaplikasikan ilmu ke selembar kerta kerja yang berjudul Kuis. Setelah sepuluh kali bertemu muka dengan pendengaran yang baik, malam ini aku harus bersuara lewat aksara, menuliskan buah pikiran, merekreasi karya milik orang lain ke dalam bentuk cerita lainnya milikku sendiri dalam dua puluh menit waktu yang terbilang sedikit.
Setelah itu, sebelum kelas berakhir dan ujian semester tiba, dosen kemudian menyimpulkan pengajarannya selama enam bulan ke dalam dua pesan. Yang pertama adalah kita tidak harus sama dengan orang lain. Kita tidak perlu membanding-bandingkan diri dengan orang lain. Ilmu produktif memang penting. Namun, kalau kita tidak memiliki bakat, kita bisa membantu orang-orang lain yang mempunyai ilmu produktif sehingga kita bisa sukses bersama dengan orang-orang itu. Yang terpenting adalah usaha kita yang maksimal di bidang kita sendiri. Sukses adalah masalah waktu. Yang kedua, yang tidak kalah penting, adalah carilah satu atau beberapa orang mentor (yoda) yang bisa membimbing kita untuk menjadi lebih baik lagi.
-o-o-o-
Hari Ini
Pagi menjelang siang, bayanganku mengejar gerak jari-jemari yang berlomba kanan dengan kiri, menari di atas keyboard di meja kerja. Sambil bergegas, kuangkat pergelangan tanganku. Jarum panjang arloji berwarna perak hampir menyentuh angka dua belas. Masih sempat, dua menit lagi, pikirku. . . .

Jakarta, 16 Desember 2014
Marina Sitinjak




sumber:
TUGAS PENGGANTI UJIAN AKHIR TERM 1 2014/2015, KOMUNIKASI BISNIS, KELAS HANDOWO DIPO

No comments:

Post a Comment